Jakarta, Intermask – Pasar keuangan Indonesia menunjukkan dinamika yang kontras sepanjang pertengahan Januari 2026. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa, sementara di sisi lain nilai tukar rupiah mengalami tekanan hingga mendorong kurs dolar Amerika Serikat (AS) di perbankan menembus level Rp17.000. Kondisi ini dapat memicu meningkatnya aktivitas trading valuta asing (forex), sekaligus menyoroti aspek kewajiban perpajakan atas transaksi tersebut.
IHSG menutup perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (15/1/2026) di level 9.075,41, menguat 42,83 poin atau 0,47%. Indeks LQ45 turut naik 7,34 poin atau 0,83% ke posisi 889,43. Sepanjang perdagangan, frekuensi transaksi mencapai 3,37 juta kali dengan volume 50,63 miliar saham dan nilai transaksi Rp28,25 triliun. Sebanyak 339 saham menguat, 331 saham melemah, dan 113 saham bergerak stagnan.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai penguatan berkelanjutan IHSG ditopang oleh stabilitas makroekonomi domestik, termasuk inflasi yang terjaga dan ekspektasi suku bunga yang relatif rendah. Selain itu, dominasi investor domestik membuat pasar saham Indonesia lebih resilien terhadap tekanan eksternal.
“Arus dana domestik yang kuat dan dominan di IHSG membuat harga saham lebih tahan terhadap guncangan dari luar negeri,” ujar Reydi.
Ia menambahkan, kinerja emiten berkapitalisasi besar, khususnya dari sektor perbankan, energi, serta saham-saham konglomerasi, menjadi penopang utama reli IHSG. Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia dinilai masih relatif lebih murah dibandingkan bursa negara maju, sehingga kepercayaan investor tetap terjaga meski ketidakpastian global masih membayangi.
Namun, di tengah euforia pasar saham, tekanan justru terjadi di pasar valuta asing. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah di level Rp16.954 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (19/1/2026), turun 0,40% secara harian dan melemah 1,37% sejak awal tahun.
Pelemahan rupiah tersebut tercermin pada pergerakan kurs dolar AS di perbankan. Di HSBC Indonesia, kurs jual dolar AS telah menembus Rp17.000 per dolar AS. Untuk transaksi TT Counter, kurs beli dipatok di Rp16.680 dan kurs jual di Rp17.130 per dolar AS. Sementara untuk Bank Notes, kurs beli berada di Rp16.605 dan kurs jual mencapai Rp17.205 per dolar AS.
Head of Market and Securities Services HSBC Indonesia, Lenny Umarslamet, mengatakan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini masih sejalan dengan dinamika pasar global.
“Kami melihat pergerakan kurs dolar AS dan rupiah yang terjadi saat ini sejalan dengan yang terjadi di pasar,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Menurutnya, volatilitas nilai tukar justru mendorong meningkatnya aktivitas transaksi valuta asing, baik untuk kebutuhan lindung nilai (hedging) korporasi maupun trading jangka pendek oleh nasabah individu. Meski demikian, nasabah HSBC dinilai telah memiliki pengalaman dan strategi untuk mengelola risiko nilai tukar, sehingga dampak pelemahan rupiah terhadap portofolio dapat diminimalkan.
Sejalan dengan meningkatnya aktivitas di pasar forex, aspek perpajakan menjadi perhatian. Keuntungan dari transaksi trading forex pada prinsipnya merupakan objek Pajak Penghasilan (PPh). Untuk transaksi derivatif valuta asing yang dilakukan melalui bursa berjangka dalam negeri, pajak umumnya dikenakan secara final dan dipungut langsung oleh penyelenggara. Sementara itu, transaksi forex yang dilakukan melalui skema over-the-counter (OTC) atau broker luar negeri tetap mewajibkan pelaku usaha maupun investor ritel untuk melaporkan keuntungan dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan.
Momentum volatilitas nilai tukar seperti saat ini menjadi pengingat bahwa potensi keuntungan dari trading forex selalu diiringi risiko yang tinggi serta kewajiban kepatuhan pajak. Otoritas terus mendorong transparansi dan kepatuhan, seiring dengan meningkatnya partisipasi masyarakat pada instrumen keuangan berisiko tinggi.
Dengan demikian, pasar keuangan Indonesia saat ini diwarnai dua dinamika berbeda. Reli IHSG mencerminkan optimisme terhadap fundamental ekonomi domestik, sementara fluktuasi rupiah di pasar valuta asing membuka peluang sekaligus risiko di pasar forex, yang menuntut kehati-hatian, strategi matang, dan kepatuhan terhadap regulasi perpajakan yang berlaku.
Sumber : Stabilitas Ekonomi Angkat IHSG Level Tertinggi, Kurs dolar di bank tembus Rp 17.000, HSBC nilai masih sejalan pasar

