Tetap Melaju Meski Dikritik, Jerman Kurangi Beban Pajak Bahan Bakar

Intermask, Jakarta – Pemerintah Jerman secara resmi menetapkan kebijakan pemotongan pajak bahan bakar sementara guna memitigasi dampak guncangan ekonomi akibat kenaikan harga energi yang dipicu eskalasi di Timur Tengah. Namun, langkah ini segera mendapatkan peringatan serius dari kalangan ekonom mengenai ancaman pembengkakan defisit anggaran negara.

Menyadur laporan Xinhua, Selasa (14/4/2026), Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam pernyataannya menekankan bahwa dampak konflik Timur Tengah tetap memberikan tekanan signifikan terhadap ekonomi nasional dan kesejahteraan rumah tangga, sekalipun ketegangan bersenjata mulai mereda.

Melalui skema relaksasi pajak ini, tarif bensin dan solar akan dipangkas sebesar 17 sen euro (sekitar 20 sen AS) per liter selama masa berlaku dua bulan. Meskipun jadwal pelaksanaannya belum diumumkan secara resmi, kebijakan intervensi ini diperkirakan akan mengurangi pemasukan kas negara hingga 1,6 miliar euro atau setara 1,9 miliar dolar AS.

Merz menjelaskan bahwa pengurangan pajak ini bertujuan memberikan solusi instan bagi para pengguna kendaraan serta sektor industri yang saat ini terbebani oleh tingginya ongkos bahan bakar.

Presiden German Institute for Economic Research (DIW), Marcel Fratzscher, memperingatkan bahwa relaksasi ini berisiko kontraproduktif. Ia menilai manfaat pemotongan pajak besar kemungkinan tidak akan terserap ke konsumen, melainkan justru mempertebal laba perusahaan-perusahaan minyak.

Senada dengan itu, ekonom dari Kiel Institute for the World Economy (IfW Kiel), Stefan Kooths, melontarkan kritik pedas dengan menyebut upaya pemerintah melindungi rumah tangga dari krisis energi sebagai sebuah ilusi. Kooths memprediksi lonjakan harga minyak global tetap akan menggerus daya beli publik, yang pada akhirnya memperlemah stabilitas makroekonomi Jerman.

Kooths menambahkan bahwa pemerintah sebenarnya hanya mengalihkan beban tersebut, di mana pemotongan pajak akan memperlebar defisit anggaran yang kelak harus ditutup melalui sumber pendapatan negara lainnya.

Kekhawatiran serupa datang dari Joachim Ragnitz dari ifo Institute Munich. Ia berpendapat bahwa campur tangan harga ini hanya sekadar menggeser biaya krisis tanpa menyelesaikan akar permasalahannya, yakni gangguan pada rantai pasokan dunia.

Ancaman Blokade Selat Hormuz

Kondisi harga bahan bakar di Jerman terus menunjukkan fluktuasi tajam dalam beberapa minggu terakhir. Meski sempat melandai setelah kabar gencatan senjata pada 7 April lalu, grafik harga kini kembali meroket akibat kekhawatiran terkait ketersediaan pasokan.

ADAC, klub otomotif terbesar di Jerman, mencatat kenaikan signifikan pada harga solar sejak Senin kemarin. Gejolak ini dipicu oleh reaksi negatif pasar atas pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada hari Minggu mengenai rencana blokade Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute maritim paling krusial di dunia yang melayani sekitar 20 persen distribusi minyak global.

Sumber: Jerman Pangkas Pajak BBM Meski Tuai Kritik